Menjadi pertunjukan Broadway terlama
keempat sepanjang sejarah, yaitu 18 tahun, dengan total 7.485 pertunjukan
(belum termasuk 593 penampilan dalam revival-nya
di tahun 2016), adaptasi layar lebar Cats
di atas kertas punya prospek besar, apalagi pada masa di mana deretan
musikal seperti La La Land dan The Greatest Showman menuai kesuksean.
Lalu trailer-nya dirilis, menyebar
kabar mulut ke mulu negatif perihal kualitas CGI. Filmnya dicela habis
kritikus, pun hancur lebur di pasaran dengan raihan opening weekend $6,5 juta. Setidaknya film ini bisa membuat
penonton umum dan kritikus satu suara.
Andrew Lloyd Webber menyusun
musikalnya berdasarkan buku kumpulan puisi Old
Possum’s Book of Practical Cats
karya T. S. Eliot, melahirkan kisah tentang
sekelompok kucing Jellicle, yang bersiap menghadapi malam istimewa, tatkala
beberapa dari mereka berkompetisi memperebutkan kesempatan “diangkat” ke
Heaviside Layer guna terlahir kembali dalam kehidupan sesuai keinginan sang
pemenang. Kompetisi macam apa? Satu per satu kucing harus menyanyikan lagu
tentang diri mereka, menjelaskan alasan mengapa mereka pantas dipilih oleh Old
Deuteronomy (Judi Dench) selaku tetua Jellicle.
Lalu apa lagi? Well, that’s it. Cats adalah 110 menit berisi perkenalan karakter.
Apa kriteria pemenangnya? Jangankan itu, membedakan nyanyian mana yang bersifat
“kampanye” dan mana yang sekadar bentuk perkenalan (baca: penambal durasi) saya
susah. Cukup sekali bernyanyi, kemudian selesai. Tidak ada penggalian lebih
jauh mengenai “kenapa si A pantas sedangkan si B tidak”, hingga Old Deuteronomy
memilih pemenang karena tersentuh oleh balada mengharu biru soal penderitaan.
Rupanya ini merupakan kontes berupa “siapa yang lebih menderita”.
Saya membenci kucing yang terpilih.
Sebagaimana sinetron kita, yang dia lakukan sepanjang film hanya menangis,
meratapi kesialan, lalu menangis lagi. Saya juga benci Victoria (Francesca
Hayward), selaku protagonis dengan fungsi eksistensi mendekati nol. Lagu-lagu catchy cenderung cheesy yang mengisi nyaris sepanjang durasi pun tak kuasa meredam
kebencian itu. Bahkan kebanyakan lagunya seperti sakarin. Manis bila dikonsumsi
secukupnya, tapi bikin mual kalau berlebihan, yang mana dilakukan film ini.
Konon Cats menyimpan alegori bernada religi. Benarkah? Andrew Lloyd
Webber meyakini itu, dan sepertinya, Lee Hall (Pride and Prejudice, Rocketman) dan sutradara Tom Hooper (The King’s Speech, Les Misérables)
sebagai penulis naskah juga berpikiran sama. Masalahnya, kisah ini berasal dari
light poetry, yang seperti namanya,
memang bersifat kasual, lucu, ringan (walau beberapa penulis menjadikan medium
ini untuk menuturkan pokok bahasan serius secara subtil). Dan Cats menanggapi keganjilan yang
dituangkan T. S. Eliot dengan serius. Terlalu serius, filmnya menganggap polah
kucing, yang sering terdiam sambil menatap kosong sebagai aktivitas spiritual.
Bagaimana dengan CGI yang ramai
dibicarakan itu? Harus dipahami dulu kenapa Cats
versi musikal tidak menderita masalah serupa. Poinnya adalah garis batas
realita dan dunia rekaan, yang coba ditembus masing-masing versi. Pertunjukan
panggungnya tak coba menjadi realis. Sedetail apa pun, pasti ada elemen estetis
hiperbolis atau eksprsionisme dalam dekorasi panggung, tata kostum, dan rias.
Alhasil, kejanggalan yang tak sesuai realita bersedia penonton terima.
Sebaliknya, Cats versi film memakai
pendekatan fotorealistik, lewat teknologi digital
fur
dan motion capture. Filmnya
ingin penonton mendapat pengalaman senyata mungkin.

Dampaknya? Sedikit saja kejanggalan
bakal mengganggu, dan kejanggalan pada Cats
tidaklah sedikit. Kucing-kucingnya tampak bak produk eksperimen laboratorium
gagal. Judi Dench dalam balutan bulu-bulu lebat duduk dengan empat kaki,
pasukan kecoa serta tikus berwajah manusia yang penempatannya tak sinkron,
Idris Elba sebagai Macavity si antagonis dengan kontur tubuh terlihat jelas—berbeda
dengan kucing lain, bulunya tipis—hingga membuatnya seperti telanjang bulat, merupakan
beberapa contoh pemandangan yang berpotensi membuat penonton bermimpi buruk.
Pun tak seperti musikalnya, hampir seluruh wajah aktor dibiarkan layaknya
manusia biasa, tanpa riasan, menjadikannya makin aneh. 
Makin hancur filmnya, ketika nama-nama seperti James Corden dan Rebel Wilson berusaha melucu, melakukan gestur-gestur konyol, yang justru tampak menyeramkan akibat rendahnya kualitas CGI. 

Tidak adakah poin positif di sini?
Ada beberapa. Ian McKellen sebagai Gus the Theatre Cat menghantarkan
satu-satunya nomor musikal berperasaan tanpa harus bercucuran air mata dan
ingus seperti Jennifer Hudson; sekuen perkenalan Skimbleshanks (Steven McRae)
si kucing penunggu rel kereta api dikemas cerita, cukup imajinatif, lengkap
dengan lagu Skimbleshanks: The Railway
Cat
yang unik dan menyenangkan; sementara Taylor Swift sebagai Bombalurina
si kucing betina penggoda yang jahat mungkin jadi satu-satunya penampil yang
sadar sedang berada di film seperti apa, lalu memerankan karakternya bak
antagonis film-film kelas B yang over-the-top.
Tapi segelintir keunggulan di atas ibarat satu hari terang dalam seminggu yang
dipenuhi hujan badai dan banjir bandang.